kisah oportunis dan previlejjs

ada satu kejadian yang ya cukup selama ini membuat saya rada geregetan, dan tentu saja masih berhubungan dengan paham oportunis yang biasa hinggap di wanita. enatah apa mereka merasa dibutuhkan atau apa, sehingga jadinya 'wanita adalah previllage buat laki-laki'. tapi sayangnya, garagara predikat itu ada yang nanggepin positif dan sayangnya adalah ada yang memanfaatkan. nhah kali ini, saya akan menceritakan tentang bagaimana mereka yang memanfaatkan hak tersebut.

ada satu teman saya yang dia sangatsangat oportunis kepada semua teman laki-laki, atau dalam bahasa gaulnya nih dia selalu kasih harapan ke semua yang deket sama dia. adakala nya memang, sebagai teman perempuan kita memberikan semangat yang intens kepada teman, tetapi yang terjadi adalah dia kata bang haji rhoma irama 'terlalu'. sampai-sampai semua teman lelakinya menanyakan perasaan si wanita tersebut, sebenernya gimana yang dia rasakan. dia selalu merasa kesal jika bercerita, but her face told the different. saya bukan mengatakan bahwa she's a liar, bukan. tapi bagaimana dia terlalu defense terhadap perasaan dia sendiri. sebenernya kadang saya juga rada sulit mengungkap motif kelakuan dia ini. apa emang dia kesepian? atau dia terhambat oleh dirinya sendiri, dengan image yang menghinggap ke dia sekarang?

sampai akhirnya ada teman laki-laki yang mendekati dia, ya si lelaki itu menurut saya sangat tulus untuk bisa bersama dia. tapi yang terjadi adalah si wanita memberikan harapan palsu. dia wanita yang sangat cerdas dalam hal membuat seseorang bertekuk lutut dan salah paham atas apa yang dia lakukan. dari mulai minta dibangunin sampe dengan sebelum tidur say good nite dengan kata puitis. damn!  si lelaki meleleh dan akhirnya terbiasa dan akhirnya tumbuhlah itu yang namanya sayang kek, cinta kek. anything. tapi ketika si cowok mengatakan ketertarikannya, yang terjadi adalah 'selama ini aku nganggep kamu sahabat aja"

so readers, kalo uda kaya gitu siapa yang harus disalahin? 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HALAL BIHALAL KS 149

self-reflection: valued or to be valued

berta dewi nugraheni