siapa yang mau?

siapa coba yang mau jadi pemulung si pemungut sampah?
siapa coba yang mau jadi penyapu jalanan?
siapa coba yang mau jadi penjaga sekaligus penguras WC umum?
siapa coba yang mau jadi pelayan restoran yang kerjaannya membersihkan makanan sisa orang lain?

beberapa pertanyaan di atas mungkin menjadi pertanyaan pembuka untuk post saya kali ini yang sifatnya merenungi sesuatu. di sebuah malam, saya ke sebuah kedai burger besar, dan ketika makan ada bapak-bapak yang membersihkan sisa-sisa piring kertas burger, sisa-sisa tulang, dan sisa-sisa gelas minuman. hal yang terjadi kemudian adalah rasa trenyuh dalam hati, sungguh bapak separuh baya itu membersihkan apa yang dia mungkin tidak bisa memakannya. pertanyaan berikutnya muncul, mengapa orang-orang yang tadi makan disini tidak merapikan terlebih dahulu sehingga itu paling tidak akan menghormati si bapak, bukan dengan meninggalkan secara berserakan. yah, mungkin memang si bapak ini cinta pada profesinya, karena itu merupakan pund-pundi satu-satunya di keluarganya. terkadang sedih juga ketika semua orang melambung tinggi dengan cita-citanya but they rarely think for the down!. mungkin saya yang terlalu sensitif, ya benar. tapi bukankah seharusnya kita meringankan beban orang lain? si bapak mengepel lantai, membersihkan sisa tulang, dan kemudian kembali berteman dengan dapur yang warnanya hitam kelam.

yah lagi-lagi kalo dipikir mungkin inilah kerasnya kehidupan dan disinilah pentingnya uang. ketika kita harus tunduk pada sesuatu yang materialistis jadi buyar kehidupan. 
tapi, satu yang penting adalah ketika nantinya kita menjadi orang yang sukses, jangan terbuai, sebab di dalam proses mu ada fungsi terkecil yang membantumu mendapatkan impian itu. cheers!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HALAL BIHALAL KS 149

berta dewi nugraheni

self-reflection: valued or to be valued