lihat dunia dengan mata, hati, dan telinga


seorang remaja sepertiku rasanya masih hidup dalam era "prestige' atau kebanggaan. kebanggaan menjadi sesuatu, kebanggaan memiliki sesuatu, kebanggaan memberikan sesuatu dan sebagainya. kebanggaan yang pada akhirnya menjadi penetu sekaligus pembeda antara satu kelompok dengan kelompok lain. dan wajarnya seorang remaja, status jomblo dan punya pacar itu menjadi bagian dari salah satu kebanggaan dalam kehidupan.Itu terjadi kepada saya, ketika di awal masa kuliah, saya pernah menetapkan bahwa saya harus punya ya pacar, selain memang untuk teman selama saya merantau , menurut saya ketika seseorang mempunyai pacar atau paling tidak ada yang naksir means orang itu laku dan berarti memang orang itu mempunyai daya tarik dan nilai lebih di mata lawan jenis. stereotip itulah yang akhirnya membuat saya berpikir tidak mendalam dan kritis. apalagi ditambah dengan teman-teman saya yang akhirnya perlahan mengurangi jadwal main bersama saya, ya tentu saja karena mereka mempunyai orang yang lebih penting ,pacar. sempat saya merasa stress dalam keadaan tersebut, hampir semua jejaring sosial yang saya miliki menjadi ajang 'persampahan' perasaan saya.

sampai pada akhirnya, sebuah lagu yang ada di playlist komputer menyadarkan saya, lagu itu seperti ini "buka mata,hati,telinga, sesungguhnya masih ada yang lebih penting dari sekedar kata cinta.. yang kau inginkan, tak selalu yang kau butuhkan mungkin memang yang lebih penting cobalah untuk membuka mata hati telinga.." lagu itu meamng sepertinya cocok untuk saya yang berpikir sangat dangkal mengenai kehidupan berpasang-pasangan sampai saya tidak memikirkan ke hal-hal yang lebih sederhana dan sociable. Dan karena lagu tersebut saya termotivasi untuk sabar dan menerima keadaan. paham mengenai sebuah konsep dari Tuhan, bahwa manusia memang hidup berpasang-pasangan. berpasangan dengan sahabat, teman, saudara, lingkungan, dan lainnya. bahwa berpasangan bukan hanya melulu dengan apa yang disebut dengan pacaran. dan sebuah pelajaran bahwa kebanggaan bisa didapatkan dari berbagai bidang kehidupan.

setelah saya sadar bahwa hidup saya telah tersita oleh hal-hal yang sempit, saya memutuskan untuk lebih membuka dunia. saya menggiatkan diri untuk berorganisasi, dan akhirnya sekarang saya dipercaya menjadi salah satu kadiv dari salah satu BKM di kampus saya. saya menjadi pemandu pelatihan empati untuk anak Sekolah Dasar dan akhirnya setelah saya sabar dan belajar menjadi diri sendiri saya ditemukan oleh "dia" yang sampai sekarang menjadi teman berbagi ide dan berbagi cerita.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HALAL BIHALAL KS 149

berta dewi nugraheni

self-reflection: valued or to be valued