urban develop? who cares?

"wah pak kalo kaya gini, yang bawah banjir.."
"loh disini banjir?''
"mboteRata Penuhn pak (nggak pak,red), di mangkang pasti banjir lha orang disini dibangun rumah semua kan udah ndak ada daerah resapan lagi, mesti dibawah bisa banjir.''

(percakapan antara bapak saya dan tukang bangunan di sebelah rumah baru saya)

sekilas mungkin temen-temen semua ngeliat percakapan di atas biasa aja, karena wow pembangunan di daerah terlarang sekarang udah jadi tren man! seorang developer gak perlu malu buat ngerombak abis hutan ataupun sawah buat jadi perumahan. ato mungkin seorang petani juga tinggal kipas-kipas uang karena lahannya udah dibeli sama bank yang mencari untung dengan menggunakan kata "cicilan murah tanpa bunga." gilaaa.. tapi kalo temen-temen cermati kalimat yang ada di dalam kurung bahwa ayah saya bercakap dengan siapa (harusnya) temen-temen kaget, yak seorang tukang bangunan.

then, apa yang menjadi sorotan saya kali ini adalah sikap orang yang sudah tau akan merugikan orang lain justru menjadi hal yang emmm its ordinary dan that's okay bagi mereka. seorang tukang bangunan yang notabene (maaf bukan maksud mendiskreditkan) pendidikannya berada dibawah para pemilik perusahaan yang memegang hajt orang banyak pun sekarang sudah mengerti dampak dari apabila merusak hutan atau sawah atau mungkin lebih tepatnya NATURE a.k.a ALAM !
dan wow, mereka sadar mereka sadar bahwa yang mereka lakukan itu salah tapi terus dilanjutkan itu yang membuat saya sampai sekarang heran.

*ahh manusia dan dunia saya rasa anda akan menjadi musuh kelak.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

HALAL BIHALAL KS 149

berta dewi nugraheni

self-reflection: valued or to be valued